Festival Tanah Lot Kembali Digelar Agustus Ini, Target Kunjungan Melonjak 7 Ribu Per Hari

Juliadi • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 18:59 WIB
Suasana parade gebogan saat Tanah Lot Art and Food Festival tahun 2025 lalu. (Juliadi)
Suasana parade gebogan saat Tanah Lot Art and Food Festival tahun 2025 lalu. (Juliadi)

TABANAN, Radartabanan.jawapos.com – Gelaran Tanah Lot Art and Food Festival ke-7 siap menggebrak pada 28–30 Agustus 2026 mendatang. Festival tahunan yang digelar Manajemen Daya Tarik Wisata (DTW) Tanah Lot ini tak sekadar memburu angka kunjungan pelancong, tetapi juga digadang-gadang jadi mesin penggerak ekonomi warga lokal.

Manager Operasional DTW Tanah Lot, I Wayan Sudiana, optimistis hajatan yang menelan anggaran Rp 2 miliar ini bakal menyedot animo luar biasa.

"Biasanya kunjungan harian DTW Tanah Lot sekitar 3 sampai 4 ribu orang. Begitu festival bergulir, kami yakin bisa tembus 7 ribu lebih pengunjung per hari," terang Sudiana, Senin (24/8/2026).

Tak main-main, manajemen memproyeksikan perputaran uang selama tiga hari perhelatan bisa menyentuh angka Rp 10 miliar.

Target ini dipasang berdasarkan evaluasi dan suksesnya penyelenggaraan di tahun-tahun sebelumnya.

Sudiana membeberkan, proyeksi Rp 10 miliar tersebut datang dari berbagai lini ekonomi yang berputar selama event berlangsung.

"Hitungan ini mencakup penjualan tiket masuk, hasil penjualan di pasar suvenir, stan kuliner UMKM dan IKM, wahana permainan anak, hingga geliat jasa transportasi, ojek online, dan pedagang skala kecil di lapangan," jelasnya.

Ada sentuhan berbeda pada festival kali ini. Pihak penyelenggara sengaja memberi panggung lebih besar bagi seniman lokal Bali dan warga Desa Beraban.

Belasan desa adat—seperti Desa Adat Jadi, Cepaka, Mundeh, Kediri, hingga Kaba-Kaba—juga siap menghentak pagelaran tahunan ini lewat deretan atraksi tari tradisional.

"Festival ini bukan cuma buat menggaet wisatawan, tapi juga jadi ruang interaksi publik sekaligus tempat kumpulnya warga Tabanan," tutur Sudiana.

Menjelang hari H, antusiasme warga memang sudah terasa hangat. Sejumlah banjar adat sibuk bersiap; ibu-ibu PKK giat berlatih untuk parade gebogan, sementara para pemuda yang tergabung dalam sekaa teruna-teruni (STT) rutin mengasah tabuhan baleganjur dan tarian.

"Tingginya partisipasi ini membuktikan bahwa Festival Tanah Lot tak sekadar pesta budaya, tapi juga memberi dampak ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat," pukasnya. ***

Editor : Yoyo Raharyo
Festival Tanah Lot Tanah Lot Art and Food Festival