TABANAN, Radartabanan.jawapos.com – Seorang pria paruh baya tampak telaten menggoreskan pensil di atas kertas di bawah payung besar. Di depannya duduk sosok pria bercambang yang sedang dilukisnya.
Seperti biasa, kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Ulun Danu Beratan atau Danau Beratan, Bedugul, Kecamatan Baturiti, Tabanan, Bali, diselimuti kabut tipis. Hawa begitu sejuk di salah satu objek wisata andalan Tabanan ini.
Lelaki berjaket dengan headset di telinga itu adalah Putu Budi Setiawan (54). Ia warga Banjar Dinas Kembang Merta, Desa Candikuning, tak jauh dari objek wisata tersebut.
Setiap harinya, pinggir danau yang ikonik dengan Pura Ulun Danu Beratan ini menjadi tempatnya mangkal untuk menjajakan jasa lukis sketsa wajah kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.
Hanya berbekal pensil matograf, buku gambar berukuran 75x55 cm, dan beberapa alat pendukung, ia mengubah hobi masa kecilnya menjadi sumber penghidupan yang konsisten.
Bagi Budi, menggambar bukan sekadar mengisi waktu luang. Ketertarikannya pada seni rupa bermula sejak ia duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).
Saat itu, buku-buku sekolah yang memuat foto pahlawan nasional menjadi inspirasi utamanya untuk belajar menggambar bentuk wajah.
"Artinya semua ini berasal dari hobi saya melukis dan kini menjadi profesi," ujar Budi saat ditemui di kawasan wisata DTW Ulun Danu Beratan.
Secara jujur, dia berlatih melukis bukan dari bangku sekolah. Juga bukan lulusan sarjana seni. Seperti ceritanya di awal, ia belajar melukis secara otodidak.
Perjalanan profesinya bermula pada tahun 2003, saat ia belum memiliki pekerjaan tetap. Melihat seorang warga asal Sumatra menjajakan lukisan di kawasan wisata tersebut, sebuah ide kreatif muncul di benaknya untuk menawarkan jasa sketsa wajah langsung jadi bagi para pelancong.
Langkah awal itu berbuah manis, hingga kini pekerjaan tersebut masih ditekuninya.
Kecepatan, kata dia, jadi daya tarik unik yang ditawarkan Budi kepada para pengunjung. Mengingat waktu kunjungan wisatawan di DTW Ulun Danu Beratan umumnya singkat sebelum melanjutkan perjalanan ke destinasi lain, ia mampu menyelesaikan satu sketsa wajah hanya dalam waktu 7 hingga 10 menit saja.
"Saya janjikan 10 menit untuk sketsa wajah, bahkan sampai 7 menit sketsa wajah langsung jadi itu paling tercepat," ungkapnya.
Kemampuan kilat ini bahkan sempat diuji oleh seorang pelukis asal Prancis yang penasaran apakah sketsa wajah benar-benar bisa diselesaikan dalam waktu 10 menit. Hasilnya membuktikan ketepatan dan profesionalisme tangan dingin Budi.
Meski cepat, ia mengakui bahwa menggambar sketsa wajah memiliki tingkat kesulitan yang tinggi dibandingkan pemandangan. Karakteristik wajah yang beragam—mulai dari lonjong, bulat, hingga kotak—serta ekspresi subjek seperti ceria, sedih, atau tenang menuntut ketelitian tingkat tinggi agar kemiripan tetap terjaga.
"Kalau wajah orang tidak bisa dirubah, harus benar-benar mirip. Kalau dirubah saat dilukis orang bisa komplain. Artinya lebih sulit sketsa wajah ketimbang menggambar pemandangan," tuturnya.
Budi mengenang, usaha yang ditekuninya ini pernah mengalami masa jaya antara tahun 2007 hingga 2010. Itu ketika ponsel pintar belum sebanyak sekarang. Dan kamera foto masih jadi barang mahal atau setidaknya tidak semua orang punya.
Sehingga tak hanya Budi, usaha foto langsung jadi juga pernah meraup cuan di objek wisata ini. Seperti yang terjadi di DTW Tanah Lot dulu.
Budi mengingat, jumlah pesanan yang didapat saat masa jayanya pernah menembus angka 30 orang wisatawan setiap harinya.
Tapi, itu dulu. Perkembangan teknologi, terutama ketika hampir setiap orang memiliki ponsel pintar dengan kamera yang makin bagus, usahanya mulai sepi peminat.
Walau tergolong sepi, setiap hari ada saja yang menggunakan jasanya.
"Kalau sekarang biasanya menerima pesanan dari 4 hingga 5 orang wisatawan," ujarnya.
Untuk setiap lembar karya sketsa wajah, ia mematok tarif berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp150 ribu. Rentang harga itu dia patok bergantung kerumitan wajah.
Artinya, setiap hari dia bisa meraup antara Rp400 ribu hingga Rp750 ribu. Sebulan, paling tidak Rp12 juta bisa dikantongi. Jauh di atas upah minimum kabupaten (UMK) Tabanan yang hanya Rp3,2 juta.
Kendati demikian, profesi yang dilakoninya di ruang terbuka ini sangat bergantung pada kondisi alam. Jika hujan lebat atau angin kencang melanda kawasan Danau Beratan, otomatis pesanan akan sepi mengingat alat gambar tidak boleh terkena air.
Bagi Budi, karya seni sketsa wajah buatannya bukan sekadar sumber penghasilan ekonomi semata. Lebih dari itu, sketsa tersebut menjadi buah tangan dan kenang-kenangan bermakna bagi wisatawan yang datang berkunjung.
"Karya seni sketsa wajah ini tidak sebagai kenangan semata, melainkan pengingat bahwa mereka, wisatawan, pernah dilukis wajah di pinggir danau di Bali," pungkasnya. ***
Editor : Yoyo Raharyo