TABANAN, Radartabanan.jawapos.com – Meski belum menyentuh angka fantastis Rp100 ribu per kilogram seperti beberapa tahun lalu atau pada musim penghujan, harga cabai merangkak naik pada musim kemarau.
Kenaikan cabai saat musim tanam, ini tentu memicu pertanyaan konsumen. Padahal, musim kemarau termasuk paling bagus untuk menanam cabai karena tidak terlalu banyak air
Saat ini, harga cabai rawit merah di tingkat eceran telah menembus Rp65.000 per kilogram, naik 13 persen dari harga sebelumnya Rp60.000 per kilogram.
Di tingkat petani sendiri, harga merangkak naik dari Rp30.000 menjadi Rp40.000 per kilogram.
Lantas, mengapa cuaca panas yang identik dengan iklim tumbuh cabai justru memicu kenaikan harga?
Nyoman Sudiasa, petani cabai asal Banjar Bangah, Kecamatan Baturiti, membeberkan bahwa persoalan utama di tingkat ladang bukan sekadar ketersediaan air pas-pasan, melainkan suhu udara ekstrem yang melanda kawasan pertanian.
"Kondisi panas berkepanjangan membuat tanaman lebih cepat layu dan berpotensi mempengaruhi volume produksi. Jika pasokan ke pasar terganggu, peluang harga cabai untuk semakin naik tentu sangat terbuka," jelas Sudiasa, Senin (28/9).
Menurutnya, kenaikan saat ini masih di posisi normal, namun trennya terus menunjukkan grafik meningkat.
Dampak kemarau ini dibenarkan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Tabanan. Analis Perdagangan Ahli Muda Disperindag Tabanan, Nurhayati, menyebut produksi tanaman cabai di tingkat petani memang menyusut akibat cuaca panas, yang kemudian berimbas pada penyesuaian harga di pasar.
Bukan hanya cabai, sejumlah komoditas sayuran ikut terseret naik pekan ini.
Dia menyebut, sayur hijau melonjak paling tinggi hingga 50 persen, dari Rp8.000 menjadi Rp12.000 per kg.
Sawi putih juga naik 20 persen, dari Rp10.000 menjadi Rp12.000 per kg.
Kemudian kol naik 13 persen, dari Rp8.000 menjadi Rp9.000 per kg.
Kenaikan juga terjadi pada kentang dari Rp15.000 menjadi Rp16.000 per kg atau naik sekitar 7 persen.
Meski tren harga terus merangkak, Nurhayati mengimbau masyarakat untuk tidak panik. Kenaikan harga saat ini belum mengindikasi adanya krisis ketersediaan barang.
"Pasokan masih tersedia dan aman. Artinya masyarakat masih dapat memperoleh komoditas tersebut di pasaran," pungkasnya. ***
Editor : Yoyo Raharyo