TABANAN, Radartabanan.jawapos.com – Museum Subak Tabanan atau Water Museum Mandala Mathika di Jalan Gatot Subroto, Banjar Dinas Sanggulan, Desa Banjar Anyar, Kediri, Tabanan, hingga kini masih mangkrak alias tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Musem megah itu belum bisa dinikmati oleh masyarakat umum sejak 2024 lalu. Biang keroknya adalah anak buah Prabowo yang tidak becus dalam bekerja.
Padahal, kompleks museum berarsitektur khas Bali itu dibangun ulang menggunakan anggaran APBN pada dua tahun lalu.
Pembangunan besar-besaran itu dilakukan untuk menyambut World Water Forum (WWF) yang digelar di Bali pada 2024 lalu.
Pemerintah Kabupaten Tabanan kini merasa posisinya digantung oleh pemerintah pusat.
Sebab, selesai dibangun, bangunan museum itu belum diserahkan ke pemerintah Tabanan. Sedangkan bangunan museum itu berada di atas lahan milik Pemkab Tabanan seluas 6,28 hektare.
Hingga per bulan Agustus 2026 ini belum ada kepastian penyerahan aset bangunan kembali ke Pemkab Tabanan, sehingga pemkab belum memiliki wewenang penuh untuk membuka operasional museum maupun menganggarkan pemeliharaan secara maksimal.
Suasana di kawasan museum pun tampak sepi saban hari, hanya diwarnai aktivitas rutin para pekerja kebersihan yang membersihkan dan merawat area luas tersebut.
Kendati akses untuk dikunjungi masyarakat umum atau wisatawan belum bisa dilakukan, jajaran UPTD Museum Subak Dinas Kebudayaan Tabanan tetap berkantor dan menjalankan berbagai kegiatan serta operasional kerja internal di museum.
Berbagai peralatan dan barang koleksi alat pertanian tradisional Bali pun sebenarnya sudah ditempatkan dan ditata dengan rapi di dalam museum.
Kepala UPTD Museum Subak Disbud Tabanan, Si Putu Eka Santi, menjelaskan bahwa penundaan operasional untuk umum ini murni karena kewenangan aset yang masih berada di tingkat kementerian pusat dan belum diserahkan ke Pemkab Tabanan.
"Durung (belum), masih pembahasan di level atas, di Kementerian," ujarnya, Rabu (26/8).
Eka Santi menegaskan bahwa dari segi penataan internal sebenarnya museum sudah siap menyambut pengunjung.
"Kami ini sedang menunggu, nanti sudah ada keputusan langsung kami eksekusi," jelasnya.
Pihaknya pun hanya bisa menunggu arahan resmi dari pusat agar museum edukasi perairan dan budaya pertanian ini bisa segera difungsikan.
"Kami di tingkat aparatur di bawah hanya menunggu perintah saja. Sudah ada perintah buka ya kami tinggal buka," pungkasnya.
Sekadar diketahui, proyek renovasi Museum Subak menghabiskan anggaran sekitar Rp101 miliar yang bersumber dari APBN. Proyek ini dikerjakan Kementerian PUPR dengan pelaksana satuan kerja Balai Wilayah Sungai Bali Penida. ***
Editor : Yoyo Raharyo