Disnaker Bali Target Jumlah Orang Menganggur 40 Ribu di Akhir Tahun 2026

Ni Kadek Novi Febriani • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 18:02 WIB
Job Fair 2026 di Kabupaten Bangli. Saat ini pengangguran di Bali menurun tajam. (Dewa Ayu Pitri Arisanti)
Job Fair 2026 di Kabupaten Bangli. Saat ini pengangguran di Bali menurun tajam. Meski demikian, secara agregat jumlahnya masih tinggi. (Dewa Ayu Pitri Arisanti)

​DENPASAR, Radartabanan.jawapos.com — Di tengah gegap gempita dunia pariwisata, Bali masih mengoleksi pengangguran. Pada tahun ini saja, Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Ketenagakerjaan dan Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) menarget jumlah pengangguran sekitar 40 ribu jiwa.

Dengan total angkatan kerja Bali yang mencapai sekitar 2,7 juta orang, Pemprov Bali berupaya memangkas Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) hingga ke angka 1,49 persen. Persentase ini setara dengan 40 ribu orang pengangguran.

​Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali per Mei 2026, angkatan kerja di Bali berada di angka 2,70 juta orang dengan TPT sebesar 1,52 persen (sekitar 41 ribu orang). Penurunan target TPT menjadi 1,49 persen ini berarti pemerintah berfokus mengentaskan ribuan pencari kerja yang tersisa melalui penguatan kompetensi.

​Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Provinsi Bali, Ida Bagus Setiawan (Gus Iwan), mengungkapkan bahwa fokus utama penanganan pengangguran saat ini adalah menyasar kelompok usia produktif yang belum terserap industri, khususnya lulusan SMA/SMK.

​"Kalau melihat TPT Bali 1,52 persen itu posisi Mei. Targetnya 1,49 persen, tapi terus kita dorong agar bisa menyentuh 1,4 persen," ujar Gus Iwan.

​Saat ini, penyerapan tenaga kerja di Bali masih sangat bergantung pada sektor pariwisata, jasa akomodasi makan-minum, serta transportasi. Namun, ketergantungan pada sektor ini dinilai memiliki kerentanan tinggi.

Selain itu, ketersediaan posisi yang kurang membutuhkan spesifikasi kompetensi tinggi kerap membuat tenaga kerja lokal memilih mencari peluang karir di luar daerah demi mendapatkan taraf pendapatan (take home pay) yang lebih sesuai.

​Guna menuntaskan target penyerapan sisa pengangguran tersebut, Disnaker Bali akan mendata dan menggembleng para lulusan sekolah yang tidak melanjutkan pendidikan maupun belum bekerja.

​"Prioritas kami adalah mereka yang tidak sekolah dan tidak bekerja. Kelompok ini perlu diberikan penguatan kompetensi," tegasnya.

​Gus Iwan menambahkan, peningkatan kapasitas SDM lokal tidak hanya sebatas kemampuan teknis (hard skill), melainkan juga kesiapan mental.

​"Hard skill bisa dilatih, tetapi mentalitas, kejujuran, dan kesehatan mental adalah modal paling penting agar tenaga kerja kita berdaya saing tinggi," pungkasnya. ***

Editor : Yoyo Raharyo
jumlah pengangguran di Bali tingkat pengangguran terbuka TPT Bali