Kenapa Pelanggan Kesulitan Order Ojol saat Krisis BBM di Bali, Ternyata Ini Penyebabnya!

Ni Kadek Novi Febriani • Dipublikasikan Sabtu, 17 Oktober 2026 | 07:07 WIB
Pengemudi ojol di daerah Tukad Bilok, Denpasar. Mereka selektif meski banjir orderan. (Ni Kadek Novi Febriani)
Pengemudi ojol di daerah Tukad Bilok, Denpasar. Mereka selektif meski banjir orderan. (Ni Kadek Novi Febriani)

DENPASAR, Radartabanan.id — Dampak krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) di Bali kini kian meluas dan memukul langsung masyarakat pengguna jasa transportasi online.

Sejumlah konsumen di kawasan Denpasar, Badung, hingga Tabanan, dan sekitarnya mengeluhkan sulitnya mendapatkan pengemudi ojek online (ojol) dalam beberapa hari terakhir. 

Orderan yang tak kunjung direspons, lamanya pencarian driver, hingga pembatalan sepihak (cancel order) menjadi makanan sehari-hari bagi warga.

"Saya dari tadi nggak dapat ojol. Makanya saya akhirnya keluar pakai motor sendiri," kata seorang pembeli pisang goreng  di Tabanan, Jumat malam (16/10/2026).

Ternyata, ada alasan kuat di balik fenomena langkanya driver ojol yang siap mengantar penumpang maupun pesanan makanan di aplikasi.

Berdasarkan penelusuran di lapangan, penyebab utama pelanggan sulit mendapatkan ojol adalah perubahan strategi para driver yang kini menjadi sangat selektif memilih orderan demi menghemat bensin.

Dudi, salah seorang pengemudi ojol yang kerap beroperasi di kawasan Tukad Bilok, Denpasar, mengakui bahwa para driver kini tidak berani asal mengambil semua pesanan yang masuk ke aplikasi.

"Kalau saya pribadi, pesanan dengan jarak 2 sampai 3 kilometer masih saya ambil. Namun jika lebih dari 4 kilometer, saya anggap kurang sepadan dengan situasi saat ini," ungkap Dudi, Jumat (16/10/2026).

Dudi menjelaskan bahwa pemerintah memang telah menetapkan skema batas atas dan batas bawah tarif ojol, di mana jarak 0 hingga 4 kilometer masuk dalam kategori batas bawah. 

"Untuk tarif standar bersih yang saya terima sekarang sekitar Rp 8.800 per kilometer," jelasnya.

Selain faktor jarak, penyebab lain pelanggan kerap "digantung" aplikasi adalah lamanya waktu yang terbuang saat driver mengantre bensin.

Setiap driver harus mengorbankan waktu operasional hingga 2 sampai 3 jam sehari hanya untuk berdesakan di SPBU.

Bahkan, demi mengejar pendapatan rata-rata Rp 300 ribu per hari, sebagian driver terpaksa mengantre dari pukul 23.00 WITA hingga pukul 01.30 WITA dini hari.

Tak hanya itu, faktor rute jalan yang dihindari driver juga memicu pembatalan pesanan. Pengemudi ojol perempuan, Queen (39), membeberkan bahwa para driver akan menolak orderan jika jalur yang dituju rawan macet atau melintasi titik-titik SPBU yang sedang mengular.

"Walaupun jaraknya dekat (short trip), saya akan memilih jalurnya dulu. Saya harus memastikan apakah ada jalan pintas (shortcut) yang bisa dilalui, serta menghindari rute yang melewati titik kemacetan atau jalanan di sekitar SPBU," jelas Queen.

Kombinasi antara terbatasnya pasokan bensin, waktu yang tersita di SPBU, serta kehati-hatian driver menghindari rute macet inilah yang akhirnya membuat ribuan pelanggan di Bali harus gigit jari karena kesulitan mendapatkan layanan ojol di tengah krisis energi ini.

Belum lagi apabila tujuan pelanggan adalah daerah yang sepi orderan, biasanya ojol akan menghindari. Sebab, kalau sudah jauh-jauh membawa penumpang atau makanan, ketika kembali tidak ada orderan maka akan rugi di bensin. ***

Editor : Yoyo Raharyo
krisis BBM di Bali ojol banjir order order ojol