Sopir Truk yang Dibakar Bos di Karangasem Masih Sekarat, Dokter Ungkap Risiko Kematian

Ni Kadek Novi Febriani • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 17:53 WIB
I Gede Selamat, sopir truk yang dibakar bosnya di Karangasem masih sekarat. (IST/ Ni Kadek Novi Febriari)
I Gede Selamat, sopir truk yang dibakar bosnya di Karangasem masih sekarat. (IST/ Ni Kadek Novi Febriari)

DENPASAR, Radartabanan.jawapos.com — Nasib naas menimpa I Gede Selamet (20), seorang sopir truk asal Banjar Susut, Desa Muncan, Kecamatan Selat, Karangasem, Bali. Pemuda ini masih terbaring sekarat di ruang intensif luka bakar RSUP Prof. Ngoerah, Denpasar, setelah disiram Pertalite dan dibakar oleh bosnya sendiri.

Sebelumnya diberitakan bahwa Selamet disiram Pertalite dan dibakar oleh bosnya, I Putu Cahyadi Putra. Persoalan berawal dari Selamet yang tidak masuk kerja dua hari karena sakit.

Sang bos datang ke rumahnya untuk meminta uang setoran sekitar Rp8,5 juta. Namun, Selamet tidak bisa memberikan uang setoran secara penuh. Setelah cekcok, sang bos mengambil Pertalite dan membakar Selamet.

Selamet akhirnya dilarikan ke RS Prof Ngoerah dengan luka bakar serius.

​Jika sebelumnya informasi dari Puskesmas menyebut luka bakar yang dideritanya hanya 40 persen, dokter di RSUP Prof Ngoerah menyebut ternyata Selamet mengalami luka bakar mencapai 68 persen.

Luka bakar yang diderita Selamet masuk dalam kategori derajat 2B hingga 3. Yang lebih mengkhawatirkan, Selamet juga mengalami trauma inhalasi akibat terhirup uap panas.

​Dokter Spesialis Bedah Plastik RSUP Prof. Ngoerah, dr. Agus Roy Rusly Hariantana Hamid, menjelaskan bahwa area terparah berada di bagian dada depan hingga melingkar ke belakang.

Kondisi jeratan luka bakar melingkar di dada tersebut membuat korban sangat kesulitan bernapas secara mandiri.

​"Pada pasien ini yang paling berat itu daerah toraks depan, dada depan. Persis kayak baju yang dipakai pasien, sama melingkar sampai belakang. Itu yang dalam," jelas dr. Roy.

Dokter Roy menambahkan, dengan luka bakar yang melingkar di dada, maka pasien kesulitan untuk bernapas.

"Luka bakar dengan melingkar di dada, itu risiko untuk pasien itu bernapas sendiri atau sadar baik itu sangat fighting dia, sangat struggle," imbuhnya.

​Terkait potensi kesembuhan dan risiko medisnya, tim medis menekankan bahwa peluang korban sangat bergantung pada masa kritis dua minggu pertama.

Bahkan, dr. Roy menegaskan tingginya risiko kematian akibat kombinasi luka bakar parah dan trauma inhalasi.

​"Kalau dia luka bakar 68 persen tanpa trauma inhalasi, itu masih survivable, masih bisa. Tapi dengan adanya trauma inhalasi itu 300 kali lipat angka kematiannya," tegas dr. Roy.

​Jika Selamet berhasil melewati masa kritis dua minggu pertama, tim medis memprediksi korban membutuhkan 10 hingga 12 kali tindakan operasi cangkok kulit yang dilakukan secara bertahap.

​Saat ini, korban masih ditidurkan (knockdown) dan dipasang ventilator untuk melancarkan oksigenasi.

Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif, dr. I Putu Kurniyanta, Sp.An-TI, menyebutkan bahwa tim medis berfokus penuh untuk mengamankan jalan napas korban.

​"Sehingga ketakutan kami ke depan adalah pembengkakan jalan napasnya," ujar dr. Putu Kurniyanta.

Kasus kebakaran seperti yang dialami I Gede Selamet mengingatkan pada kasus kebakaran gudang LPG di Jalan Kargo, Denpasar pada 9 Juni 2024 lalu. Sebanyak 18 orang karyawan gudang LPG bodong yang diduga mengoplos gas bersubsidi itu mengalami luka bakar, dan semuanya tewas dalam perawatan di rumah sakit. ***

Editor : Yoyo Raharyo
Karangasem I Putu Cahyadi Putra I Gede Selamet sopir truk dibakar bos RSUP Prof Ngoerah